Penjara Saydnaya, yang terletak di pegunungan dekat Damaskus, Suriah, telah menjadi tempat kekejaman yang mengerikan selama lebih dari satu dekade. Di balik dinding beton dan kawat berduri, rezim Bashar al-Assad melakukan penyiksaan dan pembunuhan dalam skala besar yang kemungkinan telah menewaskan puluhan ribu orang.
Menurut Stephen Rapp, mantan duta besar AS untuk kejahatan perang, tindakan ini merupakan "kekejaman terburuk abad ke-21" terkait jumlah korban dan keterlibatan langsung pemerintah. Rapp membandingkan kekejaman ini dengan tindakan yang dilakukan oleh Nazi dan Rusia Soviet, menunjukkan betapa terorganisirnya teror negara ini.
Selama perang, banyak pria yang ditahan di Saydnaya adalah pembelot militer, tentara pemberontak, dan aktivis damai. Beberapa mantan tahanan, termasuk seorang ilmuwan nuklir dan seorang insinyur, ditangkap hanya karena berteman di Facebook dengan seseorang yang mengkritik rezim.
Kini, para penyintas dapat berbicara secara terbuka tentang pengalaman mereka, menunjukkan perubahan besar dalam masyarakat Suriah. Kesaksian mereka mengungkapkan seberapa jauh penyiksaan dan pembunuhan terjadi di dalam penjara tersebut, setelah bertahun-tahun informasi tentang pelanggaran ini dirilis oleh penyelidik PBB dan organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch.
Meskipun dunia mengetahui tentang apa yang terjadi di Saydnaya, tindakan untuk menghentikan kekejaman ini tidak pernah terlaksana. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menghadapi kekuatan rezim yang brutal. Dengan semakin banyaknya orang yang berani bersuara, diharapkan fakta-fakta tentang kekejaman ini dapat lebih dikenal dan diakui oleh masyarakat internasional.
Saydnaya penjara Suriah Bashar al-Assad kekejaman