Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Peresmian Memorial Living Park oleh Kementerian HAM

Pada tanggal 10 Juli 2025, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) meresmikan Memorial Living Park di Rumoh Geudong, Aceh. Tempat ini dulunya dikenal sebagai lokasi penyiksaan, kini bertransformasi menjadi ruang kenangan untuk mengingat luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.

Rumoh Geudong, yang memiliki sejarah kelam, berfungsi sebagai saksi bisu atas kekejaman yang terjadi di masa lalu. Namun, setelah peresmian ini, muncul pertanyaan penting: untuk siapa memorial ini dibangun? Korban dari peristiwa sejarah tersebut menginginkan lebih dari sekadar undangan dalam acara peresmian. Mereka ingin dilibatkan sejak awal dalam proses perancangan dan pengelolaan ruang kenangan ini.

Para korban menyatakan bahwa yang mereka butuhkan bukanlah hanya tugu yang sunyi dengan prasasti, tetapi sebuah ruang yang mampu menceritakan kisah yang jujur. Ruang ini diharapkan dapat menggambarkan kekejaman yang terjadi, bukan hanya disederhanakan menjadi "sejarah pembangunan" yang tidak menyentuh hati.

Memorial Living Park seharusnya menjadi lebih dari sekadar pajangan. Harus ada elemen edukasi yang memungkinkan pengunjung untuk belajar, bertanya, dan merenungkan pengalaman yang dialami oleh para korban. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa sejarah yang disajikan akurat, transparansi anggaran terjaga, dan keberlanjutan memorial ini dapat dipastikan.

Jika memorial ini hanya menjadi proyek formalitas, maka ia akan gagal dalam menandai keadilan bagi mereka yang telah menderita. Sebuah memorial yang sejati seharusnya dibangun bersama dengan para korban dan ingatan akan luka mereka, bukan di atasnya.

Peresmian ini menandai 20 tahun perjalanan Kementerian HAM dalam memperjuangkan hak asasi manusia, dan diharapkan dapat menjadi langkah awal yang berarti dalam proses penyembuhan bagi masyarakat Aceh dan seluruh bangsa Indonesia.

library_books Humanityouth