Richard White, CEO dari perusahaan teknologi Fathom, memberikan pandangannya yang berbeda tentang prokrastinasi. Sementara banyak orang menganggapnya sebagai kelemahan pribadi, White justru menganggapnya sebagai salah satu kekuatan terbesarnya dalam dunia bisnis.
Selama 15 tahun terakhir, White telah membangun beberapa perusahaan sukses, termasuk UserVoice dan Fathom. Ia menyebut dirinya sebagai seorang prokrastinator ekstrem. Namun, ia menegaskan bahwa prokrastinasi bukanlah tanda malas, melainkan cara untuk memprioritaskan dengan lebih baik.
Dalam proses pembangunan Fathom, yang kini memiliki valuasi mencapai delapan angka, White dan timnya memilih untuk tidak terburu-buru meluncurkan produk. Sebaliknya, mereka mengumpulkan data dan mengamati perkembangan kemampuan kecerdasan buatan (AI). Menurut White, menunda keputusan adalah cara untuk mendapatkan lebih banyak informasi sebelum mengambil keputusan penting.
"Ketika saya menunda sebuah pilihan, saya tidak malas; saya sedang menunggu momen yang tepat ketika saya memiliki cukup data untuk membuat keputusan yang baik," ungkap White. Pendekatan ini terbukti efektif, karena dengan menunggu dan menganalisis, Fathom berhasil mencapai kesuksesan yang signifikan.
Dengan cara pandang yang unik ini, Richard White menunjukkan bahwa prokrastinasi dapat menjadi alat yang berguna bagi para pengusaha, jika digunakan dengan bijak. Prokrastinasi, menurutnya, bisa jadi merupakan cara untuk memastikan bahwa semua aspek dipertimbangkan sebelum mengambil langkah besar.
Melalui pengalaman dan filosofi ini, White mengajak kita untuk melihat prokrastinasi dengan cara yang berbeda. Daripada menganggapnya sebagai kelemahan, bisa jadi itu adalah kesempatan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.
prokrastinasi Richard White Fathom pengusaha teknologi