Seiring dengan perubahan zaman, mencari pekerjaan bagi generasi Z kini tidak hanya bergantung pada koneksi, tetapi juga pada waktu kelulusan. Salah satu contoh yang menarik adalah kisah Monica Para, seorang lulusan dari Universitas Illinois. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai insinyur perangkat lunak pada musim gugur tahun 2022, beberapa bulan sebelum ia resmi lulus dengan gelar ilmu komputer.
Monica termasuk dalam kelompok lulusan muda yang memulai karir mereka di pasar kerja yang sangat membutuhkan tenaga kerja. Saat itu, hanya 3,9% dari lulusan perguruan tinggi yang berusia antara 22 hingga 27 tahun yang mengalami pengangguran, angka terendah sejak Februari 2020.
Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Sejak saat itu, pasar kerja bagi para lulusan baru semakin sulit. Menurut data terbaru, pada bulan Maret, tingkat pengangguran untuk kelompok ini telah meningkat menjadi 5,8%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak lulusan yang kesulitan menemukan pekerjaan setelah masa studi mereka.
Banyak lulusan Gen Z yang kini berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Dengan jumlah pelamar yang meningkat, kompetisi pun semakin ketat. Banyak dari mereka yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa meskipun telah menyelesaikan pendidikan tinggi, mendapatkan pekerjaan tidaklah semudah yang dibayangkan.
Berita ini merangkum tantangan yang dihadapi banyak lulusan Gen Z di tengah perlambatan perekrutan. Hal ini penting untuk diperhatikan, karena masa depan mereka sangat bergantung pada kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai bagaimana beberapa lulusan Gen Z menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan di tengah perlambatan perekrutan, simak berita selengkapnya di sumber yang telah disebutkan.
Artikel oleh Jacob Zinkula
(Kredit: Getty Images; Tyler Le/BI)
Gen Z pekerjaan pengangguran lulusan pasar kerja