Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Presiden Palestina Serukan Penguasaan Gaza oleh Otoritas Palestina

Amman, Yordania - Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas menyatakan bahwa Hamas tidak akan memerintah Gaza setelah perang yang telah berlangsung selama 21 bulan dengan Israel berakhir. Pernyataan ini disampaikan oleh Abbas dalam sebuah pertemuan dengan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, di ibu kota Yordania, Amman pada hari Minggu.

Abbas, yang kini berusia 89 tahun, menekankan bahwa Hamas harus menyerahkan senjata mereka kepada Otoritas Palestina dan "terlibat dalam pekerjaan politik di bawah sistem hukum yang bersatu - satu otoritas, satu hukum, dan satu senjata yang sah". Pernyataan ini menunjukkan keinginan Abbas untuk memperkuat posisi Otoritas Palestina di wilayah Gaza.

Namun, penting untuk dicatat bahwa Abbas dan pemerintahannya sangat tidak populer di kalangan warga Palestina biasa. Mereka menghadapi tuduhan korupsi dan memiliki hubungan dekat dengan Israel, yang membuat banyak orang merasa skeptis terhadap kepemimpinan mereka.

Sejak awal tahun ini, pasukan keamanan PA telah meningkatkan tindakan keras terhadap kelompok bersenjata di Tepi Barat yang diduduki, yang mengakibatkan kematian puluhan pejuang yang menentang Israel. Tindakan tersebut menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Palestina.

Di sisi lain, kelompok-kelompok Palestina berargumen bahwa memiliki senjata sangat penting karena adanya ancaman yang ditimbulkan oleh Israel dan terus berlanjutnya marginalisasi politik terhadap mereka. Pada awal tahun ini, Abbas juga mengunjungi Lebanon dan menyetujui kerangka kerja di mana kelompok-kelompok Palestina akan melakukan pelucutan senjata.

Dalam pertemuan tersebut, Abbas menekankan bahwa satu-satunya solusi yang layak setelah perang adalah penarikan penuh Israel dari Gaza, dengan Otoritas Palestina mengambil alih tanggung jawab penuh atas wilayah tersebut. Dia berharap dukungan dari negara-negara Arab dan masyarakat internasional dalam proses ini.

Selain itu, Abbas juga menyerukan diadakannya konferensi internasional di New York untuk melaksanakan solusi dua negara berdasarkan Inisiatif Perdamaian Arab. Ini menunjukkan upayanya untuk mencari dukungan internasional dalam mencapai perdamaian yang berkelanjutan.

Pertemuan Abbas dengan Blair terjadi hanya beberapa hari setelah lembaga yang dipimpin Blair, Tony Blair Institute, dikaitkan dengan proyek yang banyak dikutuk karena mengusulkan pembersihan etnis di Gaza. Hal ini menambah kompleksitas situasi yang dihadapi oleh para pemimpin Palestina.

library_books Middleeasteye