Proses penemuan obat adalah sesuatu yang sangat sulit. Sekitar 90% kandidat obat gagal, dan waktu yang diperlukan bisa lebih dari 10 tahun dengan biaya yang mencapai miliaran dolar. Namun, sekarang muncul harapan baru berkat teknologi kecerdasan buatan (AI).
Peter Ray, seorang perancang obat utama di perusahaan Recursion, memiliki tujuan besar sejak berusia 13 tahun. Ia ingin memenuhi janji yang dibuat kepada ibunya yang sedang sekarat. Saat ini, Peter bekerja pada obat-obatan yang dirancang dengan AI untuk mengatasi kanker.
“Molekul ini tidak akan pernah ditemukan melalui desain manusia,” kata Peter, menunjukkan betapa uniknya teknologi yang digunakan.
Beberapa perusahaan startup, seperti Recursion, Insilico, dan Xaira, sedang menggunakan AI untuk mempercepat proses penemuan obat dan mengurangi tingkat kegagalannya. Salah satu obat percobaan, REC-617, bahkan telah diberikan kepada pasien kanker stadium akhir. Ada seorang wanita yang hidup lebih lama dari yang diharapkan, tetapi tidak ada yang tahu apakah ia mendapatkan obat tersebut atau tidak.
Saat ini, belum ada obat yang dirancang dengan AI yang telah mencapai pasar. Namun, beberapa di antaranya sudah memasuki tahap uji coba fase II. Ini adalah langkah penting, dan harapan masyarakat sangat tinggi.
“Jika sekitar 90% obat gagal,” kata Chris Gibson, CEO Recursion, “maka nilai kami berdasarkan 10 obat pertama.” Ini menunjukkan seberapa besar risiko yang diambil oleh perusahaan-perusahaan ini dalam mengembangkan obat baru.
Peter Ray masih tinggal di dekat Dundee dan terus memikirkan ibunya. “Jika salah satu dari obat ini berhasil,” ujarnya, “saya akan merasa telah memenuhi janji saya.” Ini adalah motivasi yang kuat untuknya dan timnya dalam menciptakan obat yang bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Dengan menggunakan AI, masa depan penemuan obat mungkin akan lebih cerah, dan kita semua berharap agar obat-obatan ini bisa segera tersedia untuk membantu pasien kanker.
AI obat kanker penemuan startup