Amerika Serikat dikenal sebagai negara dengan kebiasaan minum soda yang tinggi. Rata-rata, setiap orang mengonsumsi sekitar lima kaleng soda berkalori penuh setiap minggu. Namun, belakangan ini, ada perhatian baru mengenai bahan pemanis yang digunakan dalam minuman ini.
Bulan ini, Coca-Cola mengumumkan rencana untuk meluncurkan soda baru yang menggunakan gula tebu sebagai pemanis, alih-alih menggunakan sirup jagung fruktosa tinggi seperti yang biasa mereka lakukan. Hal ini terjadi setelah pernyataan Presiden Trump mengenai pemanis yang digunakan dalam soda. PepsiCo juga menyatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama jika konsumen menginginkannya.
Namun, para peneliti gizi mengingatkan bahwa fokus pada kedua pemanis ini mungkin tidak sepenuhnya tepat. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa sering mengonsumsi minuman yang manis dengan gula berhubungan dengan peningkatan berat badan, risiko obesitas yang lebih tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
"Apakah itu sirup jagung fruktosa tinggi atau gula meja, tetap saja itu soda, dan kita perlu mengurangi konsumsinya," ungkap Christopher Gardner, seorang ilmuwan gizi dan profesor kedokteran di Stanford.
Saat ini, Coca-Cola sudah menjual Coca-Cola yang diproduksi di Meksiko dan dipermanis dengan gula tebu di AS, serta Coca-Cola Kosher untuk Passover yang juga menggunakan gula. Sementara itu, PepsiCo menawarkan pilihan "gula asli" dalam produk mereka.
Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan konsumen bisa lebih sadar akan pilihan yang mereka buat saat memilih minuman manis. Meskipun ada variasi dalam pemanis, penting untuk diingat bahwa mengurangi konsumsi soda adalah langkah yang lebih bijak untuk kesehatan.
Coca-Cola Pepsi soda gula tebu kesehatan