Menteri Luar Negeri Jerman, Wadephul, dari Partai CDU, menegaskan bahwa Jerman tidak akan mengakui negara Palestina dalam waktu dekat. Pernyataan ini disampaikan sebelum kunjungannya ke Israel. Wadephul menyatakan, berbeda dengan negara lain seperti Prancis dan Inggris, Jerman percaya bahwa pengakuan negara Palestina harus menjadi bagian akhir dari proses yang lebih panjang. "Sebuah solusi dua negara yang dinegosiasikan tetap menjadi satu-satunya cara untuk memberikan kehidupan yang damai, aman, dan bermartabat bagi semua orang di kedua sisi," ujarnya.
Wadephul juga meminta Israel untuk membantu mengurangi kesulitan yang dialami oleh warga di Jalur Gaza. Ia menekankan perlunya akses yang aman melalui darat untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan. "Hanya melalui jalur darat, barang-barang bantuan dapat mencapai orang-orang dengan jumlah yang cukup," katanya sebelum berangkat ke Tel Aviv.
Selama di Jerusalem, Wadephul dijadwalkan untuk bertemu dengan rekan sejawatnya, Gideon Sa;ar, serta Perdana Menteri Benjamin Netanjahu dan Presiden Izchak Herzog. Pertemuan ini akan membahas situasi kritis di Jalur Gaza dan mencari cara untuk menghentikan perang yang sedang berlangsung. Selain itu, Wadephul juga berencana untuk bertemu dengan pejabat Otoritas Palestina di Ramallah, yang terletak di Tepi Barat.
Salah satu topik yang akan dibahas adalah tindakan terhadap organisasi teroris Hamas. Wadephul menegaskan bahwa Jerman akan terus mendukung Israel dalam menuntut agar Hamas membebaskan sandera, termasuk warga negara Jerman, dan dilucuti senjatanya agar tidak lagi memiliki pengaruh politik di wilayah Palestina. "Hamas tidak boleh lagi menjadi ancaman bagi Israel," tegasnya.
Di sisi lain, Wadephul memperingatkan Israel untuk tidak memperburuk situasi yang ada. "Jerman akan terpaksa merespons jika tindakan sepihak terus dilakukan," tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen Jerman untuk mendukung perdamaian di Timur Tengah, sembari menjaga hubungan baik dengan Israel.
Jerman Palestina Israel Wadephul Gaza