Palantir, sebuah perusahaan analisis data, telah menjadi salah satu pemenang dalam upaya pemotongan biaya pemerintahan yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump. Sejak awal tahun ini, perusahaan ini telah menerima lebih dari $113 juta dalam pengeluaran federal, menurut laporan dari The New York Times.
Pendapatan Palantir dari pemerintah AS meningkat lebih dari $370 juta dibandingkan dengan tahun lalu, berdasarkan laporan pendapatan kuartalan terbaru perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa Palantir semakin mendominasi pasar dalam penyediaan perangkat lunak untuk pemerintah.
Pemerintahan Trump telah secara dramatis memperluas kerja sama dengan Palantir, menjadikannya sebagai pengembang perangkat lunak utama yang digunakan oleh berbagai lembaga pemerintah. Sebelumnya, banyak kontrak besar dengan perusahaan konsultan seperti Accenture, Booz Allen, dan Deloitte telah dibatalkan, tetapi Palantir justru muncul sebagai pihak yang diuntungkan.
Dalam sebuah acara AI Summit di Washington DC, Trump mengucapkan terima kasih kepada berbagai pemimpin kabinet dan teknologi, termasuk Shyam Sankar, kepala teknologi Palantir. "Kami membeli banyak hal dari Palantir," kata Trump. "Apakah kami membayar tagihan kami? Saya rasa iya."
Alih-alih menggantikan kontraktor tradisional, perangkat lunak Palantir justru menjadi alat inti yang digunakan oleh mereka dalam sistem pemerintahan, menempatkan Palantir dalam posisi yang sangat penting.
Pihak Gedung Putih juga menyatakan kepuasannya terhadap kemitraan ini. Taylor Rogers, juru bicara Gedung Putih, mengatakan, "Pemerintahan Trump memiliki standar tinggi dalam membelanjakan pajak rakyat Amerika—itulah sebabnya lembaga-lembaga bermitra dengan Palantir, sebuah perusahaan Amerika terkemuka yang dikenal dengan sejarah inovasi dan efisiensinya yang meningkat."
Palantir belum memberikan tanggapan resmi mengenai komentar ini.
Palantir Trump pemotongan biaya kontrak pemerintah