Pada hari Jumat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa laporan dari PBB yang menyatakan bahwa Gaza sedang mengalami kelaparan adalah sebuah 'kebohongan besar'. Laporan tersebut berasal dari Integrated Food Security Phase Classification Initiative (IPC), sebuah sistem global yang mengklasifikasikan tingkat keamanan pangan di seluruh dunia.
Laporan IPC menyebutkan bahwa sekitar 500.000 orang di Gaza, yang mencakup sekitar seperlima dari wilayah Palestina termasuk Gaza City, sedang mengalami masa kelaparan. Ini berarti bahwa mereka kekurangan makanan yang sangat diperlukan untuk bertahan hidup.
Meski laporan tersebut telah menyebar luas dan memperingatkan bahwa kelaparan bisa menjadi masalah besar di Gaza, Netanyahu dan pemerintah Israel menolaknya keras. Mereka menganggap laporan itu tidak benar dan berusaha menegaskan bahwa Gaza tidak sedang mengalami kelaparan.
Sementara itu, laporan dari IPC menyebutkan bahwa kelaparan di Gaza semakin memburuk. Sistem ini, yang diakui secara internasional, biasanya mengumumkan adanya kelaparan jika tiga syarat terpenuhi: minimal 20 persen rumah tangga mengalami kekurangan makanan, 30 persen anak-anak mengalami malnutrisi parah, dan dua dari setiap 10.000 orang meninggal setiap hari karena kelaparan.
Perlu diketahui bahwa sejak didirikan pada tahun 2004, IPC telah menyatakan lima kali adanya kelaparan besar di dunia, terakhir di Sudan tahun lalu.
Situasi di Gaza semakin tegang karena Israel berencana melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza City, yang disebut-sebut sebagai bagian dari upaya mereka dalam menghadapi konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Konflik ini menimbulkan kekhawatiran besar di komunitas internasional, terutama mengenai dampak manusia yang sangat besar, termasuk kemungkinan kelaparan massal dan penderitaan warga sipil yang tidak bersalah.
Netanyahu Gaza kelaparan PBB konflik Israel