Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Fenomena Unik: Rumah Dijadikan Tempat Tinggal Bersama Setelah Cerai

Dalam dunia properti dan keluarga, ada fenomena menarik yang sedang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Fenomena ini dikenal sebagai 'lock-in effect', yaitu kondisi di mana orang tetap tinggal di rumah mereka karena tidak ingin kehilangan keuntungan dari suku bunga rendah yang mereka miliki. Kondisi ini juga memengaruhi pasar properti secara global, termasuk di Amerika Serikat. Menurut penelitian dari Federal Housing Finance Agency, hampir dua juta transaksi jual beli rumah terhambat selama dua tahun terakhir karena efek ini.

Selain itu, ada tren baru yang disebut 'nest', yang berarti orang tua yang bercerai tetap tinggal di rumah yang sama dengan anak-anak mereka, sementara mereka bergantian keluar masuk. Tren ini semakin populer karena biaya pindah rumah yang semakin tinggi. Para pengacara keluarga dan mediator mengatakan bahwa mengatur rumah bersama ini memang membutuhkan koordinasi yang sangat baik.

Ada juga yang mengelola rumah seperti menyewakan lewat platform Airbnb, lengkap dengan daftar tugas seperti membersihkan rumah, belanja, dan mengganti linen. Ada pula yang membagi rumah menjadi beberapa bagian dengan pintu masuk terpisah agar bisa tinggal bersama namun tetap memiliki ruang pribadi.

Namun, ada tantangan besar. Salah satu masalah utama adalah jika salah satu pihak ingin membeli keluar, biasanya harus melakukan refinancing atau pengajuan pinjaman baru yang bisa memiliki bunga hingga 7 persen. Contohnya, pasangan Morgan Dickson dan Ryan Hambry, yang harus mempertimbangkan hal ini jika ingin membeli keluar salah satu dari mereka.

Reaksi dari keluarga dan teman pun beragam. Ada yang memuji mereka karena mengutamakan anak-anak, tetapi banyak juga yang menolak keras ide ini dengan berbagai alasan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana keluarga dan pasar properti beradaptasi dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan emosional. Di Indonesia sendiri, tren ini mungkin belum terlalu umum, tetapi bisa menjadi solusi jika ingin menjaga hubungan baik dan mengurangi biaya pindah rumah.

library_books Wsj